Rabu, 05 Oktober 2011

Para Pencari Tuhan

Jack Canfield lewat buku Chicken Soup-nya telah menyentak banyak kalangan pencinta kehidupan. Dengan kemampuannya mengkonstrusikan banyak pengalaman orang dan kemudian mengumpulkan menjadi satu kumpulan pengalaman hidup dalam sebuah buku. Buku Chicken Soup diminati oleh banyak orang dan sempat beberapa tema Chicken Soup-nya menjadi salah satu buku terlaris.

 Buku Jack Canfield konon pada mulanya ditolak oleh banyak penerbit, hingga akhirnya diterbitkan juga dan secara menakjubkan melejit di pasaran. Publik kita di Indonesia tidak ketinggalan turut menikmatinya. Tidak kurang sebuah penerbit besar di Indonesia sempat mengundang saya mengapresiasi bersama popularitas buku-buku chicken soup tersebut dan mencoba merancang sebuah model chicken soup dengan tema spiritualitas sehari-hari kaum muslim.

Kita juga di tahun 1980-an (dan hingga juga) pernah terkagum-kagum melalui catatan harian Ahmad Wahid, dengan pergolakan pemikirannya menyentak dan menyadarkan kita arti menuliskan pikiran-pikiran kita yang melayang-layang di ruang batin kita. Banyak lagi tulisan-tulisan yang berkaitan dengan pengalaman sehari-hari, kita sebut misalnya, catatan harian seorang Dokter, catatan harian para perawat di rumah sakit, catatan-catatan kecil anak-anak Pinggir Kali. Catatan kecil yang bahkan dituliskan untuk kepentingan perenungan pribadi seperti karya Ahmad Wahib akhirnya banyak menjadi bagian penting perjalanan aktifis muslim dalam bergelut mencari Tuhan Yang Sejati.

Kita sangat memerlukan lebih banyak lagi publikasi-publikasi catatan harian para pencari Tuhan yang diuraikan secara sederhana tetapi memiliki bobot kedalaman. Dalam arti, konstruksi pengalaman yang lahir dari suatu kesadaran semesta, ada kekjujuran dalam mengungkapkan, walaupun mungkin membuat banyak orang merasa terancam perasaan Ketuhanannya oleh karena pikiran-pikiran Ketuhannya digugat. Setiap kita, pasti memiliki banyak pengalaman yang dapat kita kontruksikan untuk menilai perjalanan kemanusiaan kita, betapa tidak, kita sebenarnya, kata kaum eksistensialis, adalah makrokosmos, yang melingkupi seluruh realitas diluar diri kita.

Danah Zohar yang menulis buku Spiritual Intelligence bersama suaminya menguraikan secara panjang lebar pendapat berbagai pakar tentang otak manusia, dan ia mengatakan dalam otak manusia, ada yang disebut “God Spot” atau Titik Tuhan, sehingga ia sampai mengatakan bahwa selain IQ dan EQ juga ada SQ (Spiritual Quetiont). Persoalannya bagaimana kita sampai pada pikiran-pikiran Ketuhanan itu — kata Inayat Khan, seorang sufi dari India — adalah konsentrasi.

Catatan harian mengarahkan manusia untuk konsentrasi pada perkembangan batinnya dalam sebuah ungkapan tertulis dan tertata melalui pengungkapan yang jujur. Dengan demikian, catatan harian selain sebagai ruang katarsis atas berbagai persoalan kemanusiaan juga penting dalam mengarahkan konsentrasi kita agar fokus pada tingkat-tingkat perkembangan kemanusiaan kita. Bagaimana pendapat Anda? Wallahu’alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar